Aku adalah aku.
Aku tahu siapa aku. It’s oke aku terima
orang bilang apa. Yang aku tahu … Aku adalah sosok seorang pengkhayal tingkat
tinggi. Tapi untuk hal ini oh … tidak. Aku tidak sedang bermimpi saat ini.
***
Tdrik
matahari saat ini sangat menyengat. “ Najma … ! ayo kita berangkat,” teriak
ibu. “Iya bu sebentar lagi.” Mas Ari mengarahkan mobil ke bangunan hijau putih
itu. Huft… inilah kehidupan baruku hidup
di penjara suci, “Jaga diri baik-baik ya Nak dan jangan lupa belajar yang rajin.” Pesan terkahir ibu padaku yang selalu ku ingat. Ku telusuri jalanan pondok hingga ku sampai di depan gang kamarku. Ehm … ramai jugasana sini
banyak santri putri berkeliaran dengan kitab diangkat di dada. Ku menuju kamar
yang ditunjukkan pengurus pondokku sore itu. Wow …. Komplek yang sederhana dan bersih dengan dua lemari untuk para
santri menyimpan sepatunya. Ternyata aku adalah anak kamar al Ma’shumah 1 (begitu
santri pondok al Fathimiyyah mengatakan). It’s ok aku pikir ini adalah awal yang baik untukku.
Berteduh di kamar yang cukup lebar dan hanya berisikan sepuluh santri. Dalam
kamar ku juga sirkulasi udara sangat normal. Ku mulai hidupku di pondok
pesantren al Fathimiyyah.
di penjara suci, “Jaga diri baik-baik ya Nak dan jangan lupa belajar yang rajin.” Pesan terkahir ibu padaku yang selalu ku ingat. Ku telusuri jalanan pondok hingga ku sampai di depan gang kamarku. Ehm … ramai juga
***
“Najma
… Ayo bangun, udah mau shubuh lho,” suara ketua kamar yang mengagetkan dari
semua mimpi indahku. Kemudian aku terbangun dan mengambil seperangkat alat
mandi yang ku tempatkan di depan kamarku untuk segera mandi. “Huh … padahal aku
tadi sedang bermimpi tentang sahabat-sahabatku di rumah,” gerutuku dalam hati.
Setelah mandi aku pun melaksanakan sholat jamaah shubuh.
***
Jam menunjukkan
pukul 06.00 WIB aku pun langsung bersiap diri untuk segera berangkat
sekolah.”Aduh … sudah jam 6 lewat lagi aku belum sarapan, aku belum mengerjakan
tugas, aku belum belajar kimia untuk ulangan aduh gimana ini huh …. Sial ! “ Ceritaku
pada salah satu teman kamarku. “Zahrah …. Ayo kita berangkat sudah jam berapa ini aku takut telat nanti
kita bisa dihukum pak Fauzi di sekolah,” ajakku. Di jalan pun aku tidak tenang, aku selalu
terbayang-bayang wajah pak Fauzi yang menakutkan itu. Jalan ku menuju sekolah seperti buronan yang
sedang dikejar polisi. “Zahrah tunggu aku aku capek nih udah ga kuat buat jalan.” Wajah pak Fauzi yang menakutkan itu
ternyata sudah terpampang di depan gerbang sekolahku. Aaa tidak !. Aku
menundukkan kepala, wajahku ketakutan melihat wajahnya dan aku pun terburu-buru
menuju kelasku.
***
Sesampai di
kelas, aku dan Zahrah melihat suasana kelasku yang begitu sepi , lalu aku mencoba
bertanya pada teman sebelahku “Lagi ngerjain
apa sih Nad, kok serius banget?.”
“Ulangan Naj , cepetan nyiapin
kertas!”. “Hah? Masa baru masuk udah dapet ulangan sih , aneh banget!” jawabku heran. “Yaudahlah Naj ,
nggak usah banyak protes kamu ini.”
Aku pun langsung
menyiapkan kertas dan menulis soal . Baru 15 menit, “Ayo anak-anak segera
dikumpulkan!” perintah bu Atik. “Lho bu, saya baru aja
masuk dan baru tiga soal yang saya kerjakan, gimana dong? Kasih waktu ya bu.” “Oh , nggak
bisa Najma, harus segera dikumpulkan.” “Hah , yang bener aja”, batinku. “Baiklah anak-anak semuanya sudah terkumpul ,
sampai bertemu minggu depan ya , Wassalamu’alaikum,” Ucap bu Atik sambil keluar
ruangan. “Aduh, gila aja nih ulangan tadi, masa aku baru dapet tiga soal udah
dikumpulin.” Curhatku pada Zahra . “Yaudahlah Naj, terima aja!”.
***
Bel
istirahat pun tiba, saatnya keluar untuk membeli makanan kecil. “Huh , capek banget aku hari ini Nad, udah tadi berangkat sambil lari-lari terus masuk ke kelas malah dapet ulangan kayak gitu, gila ga
sih ke kantin yuk.” Ceritaku pada Sarah. “Haha, makanya kalo bangun jangan siang-siang Naj, kayak gini
deh jadinya . “Sial kan lu.” ejek Nada. “Idih , tadi tu
gara-gara Zahra tau nggak.”
***
Di kantin
rame banget nggak seperti biasanya , terpaksa deh nunggu biar sepi dikit , gumamku. 10 menit aku nunggu langsung aku beli makanan kesukaan ku
yaitu martabak manis, tapi ternyata habis. “Nad , ayo kita balik aja,” . “Lho kenapa Naj ,
habis ta ?” tanya
Nada , “Iya nih , Sial bangeeet aku hari ini.!”
Sambil berjalan keluar menuju kelas.
Pelajaran terakhir
telah aku lalui, saatnya untuk pulang ke pondok masing-masing. Aku dan Zahra langsung berjalan
keluar untuk menuju pondok. Tapi , tiba-tiba
“Najma, Zahrah !!” Nada memanggil kami yang sedang berjalan menuju
pintu gerbang. “Kenapa Nad?” tanyaku. “Anterin aku ke Utara bentar yuk , ntar kalo udah kalian boleh langsung pulang kok!” pintanya . “Ok deh, jangan lama-lama ya , soalnya kita nggak boleh pulang telat sama pondok,
apalagi kita kan
anak baru.” “Iya, iya aku tau kok.”
Aku , Zahrah dan Nada langsung menuju MAN
Utara.
***
“Makasih ya Zah, Naj!”
“Iya sama-sama ! Udah ya Nad kita balik dulu, takut
telat”
Didalam pondok,
terdengar suara santri-santri yang sedang mengaji, setelah shalat seperti
biasa. OMG ! Kita telat
, gumamku dalam hati.
“Zah kita telat, gimana nih ?.” sambil berlari menuju kamar dan bergegas menuju mushola
pondok.
***
Sehabis
selesai belajar kelompok, datang seorang anak yang belum lama tinggal di
pesantrenku. Dia adalah Hasna, dia berasal dari Kalimantan
dan sekarang bersekolah di MTS DU. Dia sudah mengenal salah satu teman
sekamarku yang bernama Tiara. Tiba – tiba semua roommate
penasaran dengan anak itu. Akhirnya kita pun berkenalan. “Hai … siapa namamu dek ?,” tanyaku.
“Namaku Hasna mbak, aku anak baru disini.,” jawabnya. “Oh gitu pantesan kok
kayaknya asing,” jawabku bersama temanku lainnya.
***
Tiba-tiba Tiara mengatakan
sesuatu yang membuat kami kaget, “Heh, Hasna bisa lihat benda yang ghaib lho,”
bisik Tiara kepadaku. Lalu aku terkaget mendengar perkataan Tiara itu. Aku
langsung memberi tahu temanku yang lainnya. Teman kamar ku pun terkaget saat
mengetahui bahwa Hasna itu dapat melihat hal-hal yang ghaib. “APA ???”
***
Aku
pun semakin penasaran dengan anak itu, aku pun bertanya sesuatu “Apakah kamu
melihat sesuatu yang aneh di pondok ini, Na” tanyaku. “Iya mba,” jawab Hasna
pelan. Tiara pun menjawab pertanyaanku kepada Hasna, “Dia itu udah sering
banget lihat kayak begituan disini Ma padahal dia disini baru seminggu lho”.
Salah satu temanku yang bernama Zamzam pun memninta Hasna menceritakan apa saja
yang sudah Hasna lihat. “ Ayo …. Na ceritakan kepada kami apa saja yang sudah
kau lihat di pondok kita tercinta ini, “ meminta dengan gaya lebaynya. Hasna pun langsung memulai
ceritanya dengan diawali satu pertanyaan kepada kami,” Mba aku nanya ya jendela
itu kamar apa?”. Aku pun menjawab dengan perasaan takut dan bingung, “ Oh itu
kamar mba mba yang ngabdi ndalem Na, emang ada apa dengan jendela itu “. “Itu
mba”, jawab Hasna ragu . “ Itu apa Na ? ceritakan kepada kami semua”. “ Itu mba
itu …..? “. “ Itu apa sih kamu kalu ngomong itu yang jelas dong” kata Zamzam
dengan nada kesal.”Itu lho mba aku setiap malam melihat wanita jalan-jalan di
depan jendela itu”.”Aaaa? teriak aku dan teman kamarku sambil berpegangan
tangan.“Terus apa lagi aduh kayaknya seru nih” minta Zamzam sama seperti kebiasaan
gaya lebaynya.”Terus
kalau komplek itu komplek apa mba,kok tidak ditempati lagi.” Iya itu komplek
yang ga ditempati lagi soalnya bangunannya sudah tua.” “ Hoalah pantesan mba”
jawab Hasna. “Apa maksud kamu, Na” tanyaku. “Iya mba setiap kamar disitu ada
penunggunya satu kamar ada satu penunggunya mba”. “iya kok dek disitu emang ada
penunggunya mba-mba dulu pernah cerita tentang komplek itu” sambung pembimbing
kamarku yang tiba-tiba ikut gabung bersama kami.
***
Saat
sedang asyiknya Hasna, aku dan teman kamarku bercerita hal-hal yang misterius
di pondokku.Tiba-tiba Zam zam berteriak kesakitan, “Aaaa apa ini ?” teriak
Zamzam. “Hah ? itu kan
yuyu ?” jawab Hasna. “ Lho? Kok aneh ya tiba-tiba ada yuyu disini,” sambungku.
Mba Yuni pun langsung membuang binatang aneh itu keluar komplekku.”Ini
benar-benar aneh selama aku mondok disini selama12 tahun lamanya tidak pernah
melihat binatang seperti ini,” jawab mba yuni dengan nada ketakutan. “Aduh aku
takut nih teman gimana yuyu itu gigit kakiku tadi”. Hasna pun tiba-tiba terdiam sesaat.”Menurutku yuyu itu sedang
mendengarkan cerita kita tentang keluarganya deh”. “ APA ???”
teriak aku dan kamarku seraya kita berpelukan ketakutan.”Aku kok ga paham yaaa”
jawab Tiara yang lolanya minta ampun, “ Itu lho tir maksudnya Hasna itu yuyu
itu jelmaan keluarga dari penunggu komplek Jamilah itu,” jelasku kepadanya.
***
“Udahan
Rek ceritanya mending cerita hal yang lain aja,” tukas Mba Yuni. Aku melihat Hasna
terdiam dengan wajah kebingungan atas kejadian tersebut.”Kamu kenapa Na kok
diam saja dari tadi”, tanyaku. “Tidak ada apa-apa kok, Mba. Aku cuma lagi
menyimpulkan kejadian aneh itu, aku menakuti sesuatu yang tidak aku inginkan,”
jawab Hasna. “Apa itu ?”, tanya Mba Yuni. “Aku takut setelah ini salah satu
dari kita ada yang diganggu oleh mereka”, jelas Hasna.
***
Tiba-tiba
Mba Yuni menyarankan kami untuk meminta maaf pada yuyu tersebut. Akhirnya kami
pun menurutinya,”Yuyu yang baik hati maafkan kami ya sudah menggangu kamu
disini, kami tidak ada maksud apa-apa, kami hanya ingin tahu saja tidak lebih,”
memohon dengan gaya
canda ku dan temanku. Kami pun memutuskan untuk berhenti bercerita tentang
hal-hal ghaib tapi tetap saja Hasna selalu ingin cerita apa yang ia lihat
dipondokku. Zamzam mengusir suasana ketakutan kala itu dengan menyanyikan lagu
penyanyi yang ia sukai.
I
will never say never! (I will fight)
I will fight till forever! (make it right)
When ever you knock me down,
I will not stay on the ground.
Pick it up,
Pick it up,
Pick it up,
Pick it up up up,
And never say never.
I will fight till forever! (make it right)
When ever you knock me down,
I will not stay on the ground.
Pick it up,
Pick it up,
Pick it up,
Pick it up up up,
And never say never.
***
Jam menunjukkan
pukul 24.00 WIB dan bel malam pondokku berbunyi yang mana letak bel tersebut
berada di samping kamarku. “teeet teet teet”. Aku dan temanku memasuki kamar
untuk istirahat. Padahal pondokku sudah sepi tak ada santri yang masih
berkeliaran. Namun aku dan temanku tidak bisa tidur karena selalu mengingat
kejadian yuyu tersebut.
***
Keesokan harinya
…..
Aku mendengar
kabar dari teman kamar Hasna, bahwa Hasna jatuh sakit.Aku pun terkaget setelah
mengetahui hal itu ternyata apa yang dibicarakan Hasna malam itu benar. Aku dan
temanku yang lain pun menjadi ketakutan setelah mengetahui ini semua. Tetapi
kami mencoba berani dan selalu meminta perlindungan-Nya setiap saat agar tidak
terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


0 comments:
Posting Komentar