Senin, 30 Januari 2012

aku adalah aku ....


Aku adalah aku. Aku tahu siapa aku. It’s oke aku terima orang bilang apa. Yang aku tahu … Aku adalah sosok seorang pengkhayal tingkat tinggi. Tapi untuk hal ini oh … tidak. Aku tidak sedang bermimpi saat ini.
           
***
            Tdrik matahari saat ini sangat menyengat. “ Najma … ! ayo kita berangkat,” teriak ibu. “Iya bu sebentar lagi.” Mas Ari mengarahkan mobil ke bangunan hijau putih itu. Huft… inilah kehidupan baruku hidup
di penjara suci, “Jaga diri baik-baik ya Nak dan jangan lupa belajar yang rajin.” Pesan terkahir ibu padaku yang selalu ku ingat. Ku telusuri jalanan pondok hingga ku sampai di depan gang kamarku. Ehm … ramai juga sana sini banyak santri putri berkeliaran dengan kitab diangkat di dada. Ku menuju kamar yang ditunjukkan pengurus pondokku sore itu. Wow …. Komplek yang sederhana  dan bersih dengan dua lemari untuk para santri menyimpan sepatunya. Ternyata aku adalah anak kamar al Ma’shumah 1 (begitu santri pondok al Fathimiyyah mengatakan). It’s ok aku pikir ini adalah awal yang baik untukku. Berteduh di kamar yang cukup lebar dan hanya berisikan sepuluh santri. Dalam kamar ku juga sirkulasi udara sangat normal. Ku mulai hidupku di pondok pesantren al Fathimiyyah.

***
            “Najma … Ayo bangun, udah mau shubuh lho,” suara ketua kamar yang mengagetkan dari semua mimpi indahku. Kemudian aku terbangun dan mengambil seperangkat alat mandi yang ku tempatkan di depan kamarku untuk segera mandi. “Huh … padahal aku tadi sedang bermimpi tentang sahabat-sahabatku di rumah,” gerutuku dalam hati. Setelah mandi aku pun melaksanakan sholat jamaah shubuh.

***
Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB aku pun langsung bersiap diri untuk segera berangkat sekolah.”Aduh … sudah jam 6 lewat lagi aku belum sarapan, aku belum mengerjakan tugas, aku belum belajar kimia untuk ulangan aduh gimana ini huh …. Sial ! “ Ceritaku pada salah satu teman kamarku. “Zahrah …. Ayo kita berangkat sudah jam berapa ini aku takut telat nanti kita bisa dihukum pak Fauzi di sekolah,” ajakku. Di jalan pun aku tidak tenang, aku selalu terbayang-bayang wajah pak Fauzi yang menakutkan itu. Jalan ku menuju sekolah seperti buronan yang sedang dikejar polisi. “Zahrah tunggu aku aku capek nih udah ga kuat buat jalan.” Wajah pak Fauzi yang menakutkan itu ternyata sudah terpampang di depan gerbang sekolahku. Aaa tidak !. Aku menundukkan kepala, wajahku ketakutan melihat wajahnya dan aku pun terburu-buru menuju kelasku.
           
***
Sesampai di kelas, aku dan Zahrah melihat suasana kelasku yang begitu sepi , lalu aku mencoba bertanya pada teman sebelahku “Lagi ngerjain apa sih Nad, kok serius banget?.” “Ulangan Naj , cepetan nyiapin kertas!”. “Hah? Masa baru masuk udah dapet ulangan sih , aneh banget!” jawabku heran. “Yaudahlah Naj , nggak usah banyak protes kamu ini.”
Aku pun langsung menyiapkan kertas dan menulis soal . Baru 15 menit, “Ayo anak-anak segera dikumpulkan!” perintah bu Atik. “Lho bu, saya baru aja masuk dan baru tiga soal yang saya kerjakan, gimana dong? Kasih waktu ya bu.” “Oh , nggak bisa Najma, harus segera dikumpulkan.” “Hah , yang bener aja”, batinku. “Baiklah anak-anak semuanya sudah terkumpul , sampai bertemu minggu depan ya , Wassalamu’alaikum,” Ucap bu Atik sambil keluar ruangan. “Aduh, gila aja nih ulangan tadi, masa aku baru dapet  tiga soal udah dikumpulin.” Curhatku pada Zahra . “Yaudahlah Naj, terima aja!”.
***
            Bel istirahat pun tiba, saatnya keluar untuk membeli makanan kecil. “Huh , capek banget aku hari ini Nad, udah tadi berangkat sambil lari-lari terus masuk ke kelas malah dapet ulangan kayak gitu, gila ga sih ke kantin yuk.” Ceritaku pada Sarah. “Haha, makanya kalo bangun jangan siang-siang Naj, kayak gini deh jadinya . Sial kan lu.” ejek Nada. “Idih , tadi tu gara-gara Zahra tau nggak.”

***
Di kantin rame banget nggak seperti biasanya , terpaksa deh nunggu biar sepi dikit , gumamku. 10 menit aku nunggu langsung aku beli makanan kesukaan ku yaitu martabak manis, tapi ternyata habis. “Nad , ayo kita balik aja,” . “Lho kenapa Naj , habis ta ?” tanya Nada , “Iya nih , Sial bangeeet aku hari ini.!” Sambil berjalan keluar menuju kelas.
Pelajaran terakhir telah aku lalui, saatnya untuk pulang ke pondok masing-masing. Aku dan Zahra langsung berjalan keluar untuk menuju pondok. Tapi , tiba-tiba
“Najma, Zahrah !!” Nada memanggil kami yang sedang berjalan menuju pintu gerbang. “Kenapa Nad?” tanyaku. “Anterin aku ke Utara bentar yuk , ntar kalo udah kalian boleh langsung pulang kok!” pintanya . “Ok deh, jangan lama-lama ya , soalnya kita nggak boleh pulang telat sama pondok, apalagi kita kan anak baru.” “Iya, iya aku tau kok.”
Aku , Zahrah dan Nada langsung menuju MAN Utara.

***
“Makasih ya Zah, Naj!”
“Iya sama-sama ! Udah ya Nad kita balik dulu, takut telat”
           
Didalam pondok, terdengar suara santri-santri yang sedang mengaji, setelah shalat seperti biasa. OMG! Kita telat , gumamku dalam hati.
Zah kita telat, gimana nih ?.” sambil berlari menuju kamar dan bergegas menuju mushola pondok.
***
            Sehabis selesai belajar kelompok, datang seorang anak yang belum lama tinggal di pesantrenku. Dia adalah Hasna, dia berasal dari Kalimantan dan sekarang bersekolah di MTS DU. Dia sudah mengenal salah satu teman sekamarku yang bernama Tiara. Tiba –  tiba semua roommate penasaran dengan anak itu. Akhirnya kita pun berkenalan. “Hai … siapa namamu dek ?,” tanyaku. “Namaku Hasna mbak, aku anak baru disini.,” jawabnya. “Oh gitu pantesan kok kayaknya asing,” jawabku bersama temanku lainnya.
           
***
Tiba-tiba Tiara mengatakan sesuatu yang membuat kami kaget, “Heh, Hasna bisa lihat benda yang ghaib lho,” bisik Tiara kepadaku. Lalu aku terkaget mendengar perkataan Tiara itu. Aku langsung memberi tahu temanku yang lainnya. Teman kamar ku pun terkaget saat mengetahui bahwa Hasna itu dapat melihat hal-hal yang ghaib. “APA???”

***
            Aku pun semakin penasaran dengan anak itu, aku pun bertanya sesuatu “Apakah kamu melihat sesuatu yang aneh di pondok ini, Na” tanyaku. “Iya mba,” jawab Hasna pelan. Tiara pun menjawab pertanyaanku kepada Hasna, “Dia itu udah sering banget lihat kayak begituan disini Ma padahal dia disini baru seminggu lho”. Salah satu temanku yang bernama Zamzam pun memninta Hasna menceritakan apa saja yang sudah Hasna lihat. “ Ayo …. Na ceritakan kepada kami apa saja yang sudah kau lihat di pondok kita tercinta ini, “ meminta dengan gaya lebaynya. Hasna pun langsung memulai ceritanya dengan diawali satu pertanyaan kepada kami,” Mba aku nanya ya jendela itu kamar apa?”. Aku pun menjawab dengan perasaan takut dan bingung, “ Oh itu kamar mba mba yang ngabdi ndalem Na, emang ada apa dengan jendela itu “. “Itu mba”, jawab Hasna ragu . “ Itu apa Na ? ceritakan kepada kami semua”. “ Itu mba itu …..? “. “ Itu apa sih kamu kalu ngomong itu yang jelas dong” kata Zamzam dengan nada kesal.”Itu lho mba aku setiap malam melihat wanita jalan-jalan di depan jendela itu”.”Aaaa? teriak aku dan teman kamarku sambil berpegangan tangan.“Terus apa lagi aduh kayaknya seru nih” minta Zamzam sama seperti kebiasaan gaya lebaynya.”Terus kalau komplek itu komplek apa mba,kok tidak ditempati lagi.” Iya itu komplek yang ga ditempati lagi soalnya bangunannya sudah tua.” “ Hoalah pantesan mba” jawab Hasna. “Apa maksud kamu, Na” tanyaku. “Iya mba setiap kamar disitu ada penunggunya satu kamar ada satu penunggunya mba”. “iya kok dek disitu emang ada penunggunya mba-mba dulu pernah cerita tentang komplek itu” sambung pembimbing kamarku yang tiba-tiba ikut gabung bersama kami.
***
            Saat sedang asyiknya Hasna, aku dan teman kamarku bercerita hal-hal yang misterius di pondokku.Tiba-tiba Zam zam berteriak kesakitan, “Aaaa apa ini ?” teriak Zamzam. “Hah ? itu kan yuyu ?” jawab Hasna. “ Lho? Kok aneh ya tiba-tiba ada yuyu disini,” sambungku. Mba Yuni pun langsung membuang binatang aneh itu keluar komplekku.”Ini benar-benar aneh selama aku mondok disini selama12 tahun lamanya tidak pernah melihat binatang seperti ini,” jawab mba yuni dengan nada ketakutan. “Aduh aku takut nih teman gimana yuyu itu gigit kakiku tadi”. Hasna pun tiba-tiba  terdiam sesaat.”Menurutku yuyu itu sedang mendengarkan cerita kita tentang keluarganya deh”. “ APA???” teriak aku dan kamarku seraya kita berpelukan ketakutan.”Aku kok ga paham yaaa” jawab Tiara yang lolanya minta ampun, “ Itu lho tir maksudnya Hasna itu yuyu itu jelmaan keluarga dari penunggu komplek Jamilah itu,” jelasku kepadanya.  

***

            “Udahan Rek ceritanya mending cerita hal yang lain aja,” tukas Mba Yuni. Aku melihat Hasna terdiam dengan wajah kebingungan atas kejadian tersebut.”Kamu kenapa Na kok diam saja dari tadi”, tanyaku. “Tidak ada apa-apa kok, Mba. Aku cuma lagi menyimpulkan kejadian aneh itu, aku menakuti sesuatu yang tidak aku inginkan,” jawab Hasna. “Apa itu ?”, tanya Mba Yuni. “Aku takut setelah ini salah satu dari kita ada yang diganggu oleh mereka”, jelas Hasna.

***

            Tiba-tiba Mba Yuni menyarankan kami untuk meminta maaf pada yuyu tersebut. Akhirnya kami pun menurutinya,”Yuyu yang baik hati maafkan kami ya sudah menggangu kamu disini, kami tidak ada maksud apa-apa, kami hanya ingin tahu saja tidak lebih,” memohon dengan gaya canda ku dan temanku. Kami pun memutuskan untuk berhenti bercerita tentang hal-hal ghaib tapi tetap saja Hasna selalu ingin cerita apa yang ia lihat dipondokku. Zamzam mengusir suasana ketakutan kala itu dengan menyanyikan lagu penyanyi yang ia sukai.


I will never say never! (I will fight)
I will fight till forever! (make it right)
When
ever you knock me down,
I will not stay on the ground.
Pick it up,
Pick it up,
Pick it up,
Pick it up up up,
And never say never.

***

Jam menunjukkan pukul 24.00 WIB dan bel malam pondokku berbunyi yang mana letak bel tersebut berada di samping kamarku. “teeet teet teet”. Aku dan temanku memasuki kamar untuk istirahat. Padahal pondokku sudah sepi tak ada santri yang masih berkeliaran. Namun aku dan temanku tidak bisa tidur karena selalu mengingat kejadian yuyu tersebut.

***

Keesokan harinya …..
Aku mendengar kabar dari teman kamar Hasna, bahwa Hasna jatuh sakit.Aku pun terkaget setelah mengetahui hal itu ternyata apa yang dibicarakan Hasna malam itu benar. Aku dan temanku yang lain pun menjadi ketakutan setelah mengetahui ini semua. Tetapi kami mencoba berani dan selalu meminta perlindungan-Nya setiap saat agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

0 comments:

Posting Komentar

News

« »
« »
« »
Get this widget
 
Copyright (c) 2010 ^_^ dzulfarinalhaq ^_^ and Powered by Blogger.